Minggu, 19 April 2015

Batasan Kesabaran Manusia ??


       Tulisan saya yang pertama di bulan ini terinspirasi dari status salah satu rekan saya yang sedang berada diambang kesabarannya dalam menghadapi tekanan pekerjaan yang mendera hari-harinya. Beberapa saat yang lalu tanpa sengaja saya membaca status pribadinya di media sosial. Sekilas saya anggap status teman saya ini seperti biasa saja karena memang status berupa keluhan memang kerap kali saya temui ketika menjelajah dunia maya seperti kali ini. Namun beberapa detik setelah membaca status itu mendadak muncul pula pertanyaan dalam kepala saya mengenai ambang batas kesabaran seorang manusia yang sering sekali diuji dengan tekanan permasalahan. Saya rasa tidak hanya kawan saya yang satu itu yang mengalami berada diambang kesabaran tatkala menjalani tekanan dari hari ke hari, tapi saya yakin masih banyak juga orang-orang diluar sana yang berada diambang batas kesabaran akibat banyak permasalahan yang mendatangi kesehariannya. Saya sendiri beberapa waktu lalu juga sempat berada diambang batas kesabaran ini. Bagi saya hal ini cukuplah wajar mengingat setiap manusia senantiasa dihadapkan pada permasalahan sesuai porsinya masing-masing yang tentu saja menguji sampai dimana batas kesabarannya. Ada yang diuji dengan permasalahan pribadi, permasalahan keluarga, permasalahan pekerjaan dan masih banyak lagi jenih permasalahan yang dapat menguji sampai dimana kesabaran kita

       Pertanyaannya yang mendadak muncul di kepala saya adalah sebenarnya sampai dimanakah batas kesabaran manusia? Pertanyaan ini pun akhirnya berputar-putar di kepala saya untuk dicari jawabannya. Cukup berat memang menakar ukuran sampai dimana kesabaran manusia, mengingat sebagai manusia biasa yang penuh keterbatasan pasti akan ada kala dimana kesabaran seorang manusia pun akan dibatasi. Namun benarkah kesabaran manusia itu memang ada batasnya sebagaimana seorang manusia yang penuh keterbatasan? 

       Selama ini ketika mendengar kata kesabaran, maka kita selalu mengidentikkan dengan menahan kemarahan. Padahal kesabaran yang sesungguhnya bukan hanya ketika kita mampu menahan amarah melainkan juga kesabaran dalam menjalani problematika setiap hari-hari kita yang mungkin tidak se ideal harapan kita, Seperti kesabaran tatkala menghadapi permasalahan, kesedihan, perpisahan, amarah, emosi dan banyak hal lainnya dalam hidup. Orang-orang yang mampu mencapai tahap kedewasaan dalam hidupnya sebenarnya adalah mereka yang mampu melewati setiap permasalahan, kesedihan, perpisahan dan beberapa hal seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Orang-orang dewasa tadi mampu bertahan dan bersabar dalam menghadapi hal-hal tadi sehingga mendapatkan tingkat kedewasaannya. Bisa kita bayangkan bila kesabaran manusia diciptakan terbatas? Pasti tidak akan ada manusia yang bisa mencapai tingkatan dewasa yang bisa bertahan hidup bukan? Karena mereka sudah menyerah dan memilih untuk membatasi kesabarannya sehingga mereka tidak mampu menghadapi tekanan kehidupannya

Jadi, Jangan Pernah membatasi kesabaran kita hanya dengan dalih keterbatasan kita sebagai manusia biasa, karena sesungguhnya Tuhan menciptakan hati kita lebih luas dari yang bisa manusia perkirakan dengan keterbatasannya. 


Sesungguhnya KESABARAN itu bukan masalah KEMAMPUAN, melainkan masalah KEMAUAN

 

Sabtu, 18 April 2015

Makna Perjuangan dari kerasnya Kehidupan

Kekecewaan untuk Mengelola Harapan

Sabtu, 22 November 2014

Kebahagiaan dalam Bingkai Kesederhanaan

"Kebahagiaan itu sebenarnya sederhana, yaitu ketika kita telah mampu memaknai kesulitan, kesedihan dan permasalahan dalam kehidupan kita sebagai sebuah proses yang harus kita lalui untuk memahami sebuah kebahagiaan itu lebih dalam, karena pada akhirnya kebahagiaan itu tidak bergantung dari apa yang ada disekitar kita, melainkan bergantung dari diri kita sendiri yang menciptakannya dalam hati kita"

       
       Dalam hidup ini kita pasti mendambakan hari-hari yang nyaman, aman dan mampu menenangkan diri kita dalam menjalani kehidupan dari waktu ke waktu. hal ini sangatlah wajar karena memang tidak ada satupun manusia di dunia ini yang ingin hidup tanpa sebuah kebahagiaan yang dia rasakan. Tujuan semua orang hidup adalah untuk mencari kebahagiaan, baik itu secara lahir maupun bathin. itu sebabnya banyak orang yang kemudian berlomba-lomba untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai dan mampu membuat mereka bahagia. Pertanyaannya adalah, apakah kebahagiaan hanya tentang mengejar hal-hal yang kita sukai dalam kehidupan kita saja? Karena faktanya, terlalu mendambakan dan terlalu mencari kehidupan yang menyenangkan ini kadang malah cenderung membuat diri kita mudah putus asa dalam menjalani hari karena pada kenyataannya Tuhan senantiasa menguji kita dengan kehidupan yang berat, penuh masalah dan jauh dari kata menyenangkan.
       Adalah anggapan yang salah bila kita mencari kebahagiaan dengan berupaya mendapatkan sesuatu yang kita senangi dalam kehidupan ini karena pada akhirnya itu hanya akan menjadi kebahagiaan sesaat yang menimbulkan keinginan untuk mendapatkan hal lainnya dalam upaya mendapatkan kebahagiaan pribadinya. Saya mengatakan ini anggapan yang salah karena keadaan ini hanya akan membuat kita cenderung memuaskan keinginan pribadi kita yang pada dasarnya akan mengkaburkan pemaknaan kita mengenai sebuah kebahagiaan. Karena kebahagiaan itu tidak hanya diukur dari apa yang bisa kita dapatkan dan miliki, melainkan dari apa yang bisa kita pelajari dalam hidup. Banyak orang di sekitar kita yang mungkin tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam hidup, lantas apakah itu membuat mereka pasti tidak bahagia? belum tentu bukan? Bukankah memang ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan kita? lantas apakah itu akan membuat kita menderita dalam menjalani kehidupan kita sepanjang hari?

Pada akhirnya kita ini haruslah sadar bahwa kebahagiaan yang kita cari dalam kehidupan itu bukanlah berarti sebuah hidup yang tanpa masalah dan sebuah hidup yang kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. melainkan kebahagiaan dalam hidup yang sesungguhnya kita cari adalah ketika pada akhirnya kita memahami bahwa dari sebuah masalah pun ada kebahagiaan yang bisa kita ciptakan yaitu kekebahagiaan ketika kita tetap bisa bersyukur di tengah situasi sulit hidup kita, dan dari ketidakmampuan kita mendapatkan apa yang kita inginkan itu kita belajar mengenai sebuah keikhlasan.


Semoga Tulisan saya kali ini Bermanfaat 

Tanjung Selor, 23 November 2014


Ivandhana
(Writer)

Minggu, 14 September 2014

KEMAMPUAN dan KEMAUAN untuk Menjalani Kondisi Sulit

Tuhan tidak akan menempatkan dalam sebuah kondisi tanpa alasan. Kalaupun ketika ini kita dalam kondisi sulit yang kita merasa tak mampu menjalaninya, sebenarnya ketika itu kita hanya sedang diuji apakah kita benar-benar bisa memanfaatkan apa yang sesungguhnya kita miliki untuk melewati kondisi sulit yang ada di depan kita



        Dalam kehidupan kita, pasti kita pernah merasakan berada dalam sebuah kondisi yang sulit. Baik itu kesulitan dari segi masalah dalam pribadi kita ataupun masalah di lingkungan sekitar kita yang menyebabkan kita juga terkena dampaknya. Mungkin banyak diantara kita yang mengeluh dengan kondisi itu, tapi kita harus sadar bahwa keluhan tidak akan membuat kondisi membaik. Bukankah kehidupan kita itu memang terus berjalan layaknya roda yang berputar, kadang diatas dan kadang dibawah. Kadang bahagia dan kadang merasakan kesedihan. Kalau saya ibaratkan, hidup itu layaknya dua sisi yang memang wajib kita jalani. Ada sisi dimana kita bahagia dan ada sisi dimana kita merasakan kondisi sulit. Ketika kita hanya mengarapkan berada dalam sisi yang bahagia dan mudah untuk dilalui itu sama saja kita memaksakan egoisme kita pribadi semata. Tidak ada yang namanya kehidupan yang senantiasa bahagia, yang ada hanyalah kehidupan yang seburuk apapun keadaannya namun tetap kita jalani dengan kebahagiaan. 
        Mungkin banyak yang akan mencibir kalimat terakhir dari paragraf diatas. Mana bisa kehidupan sulit dijalani dengan kebahagian? Bukannya kondisi sulit itu membuat kita harus berfikir lebih keras untuk mencari solusi agar keluar dari kondisi sulit tersebut? Jadi wajar donk klo didalam kondisi sulit tadi kita harus berusaha lebih keras. Bagaimana bisa didalam usaha keras tadi kita bahagia? Bahagia kan pada saat kita sudah bisa keluar dari masalah tersebut?..  Pertanyaan tadi akan saya jawab dengan satu kata, yaitu “Bisa”. Menjalani masalah dengan bahagia disini bukan berarti menyepelekan masalah ataupun melupakan masalah tersebut dengan menganggapnya tidak ada.namun menjalani masalah dengan bahagia disini artinya menerima masalah itu dengan ikhlas dan menganggap sebuah masalah itu hanyalah salah satu proses yang wajib kita lalui. Karena masalah itu Cuma satu proses yang harus kita lewati, otomatis sebenarnya kita memiliki kemampuan untuk melewatinya. Hanya saja terkadang kita kalah dengan rasa takut dan rasa pesimis yang ada sehingga kita menganggap sebuah kesulitan atau masalah sebagai sebuah tembok yang harus kita hindari. Itu sebabnya banyak orang yang seringkali hanya berusaha menghindar dari masalah dengan mencari pelampiasan dan kesenangan sesaat dan bukannya menghadapinya. 
        Bahasa kasar untuk orang-orang yang hanya bisa menghindari kondisi sulit dengan mencari pelampiasan kesenangan sesaat ini mungkin adalah kalah sebelum bertanding. mereka tidak berani menghadapi masalah tersebut dan berusaha mengalahkannya. mereka hanya berusaha menghindar dan mencari pelampiasan sesaat yang bisa membuat dirinya lega sesaat dari tekanan yang diakibatkan dari permasalahan itu tadi. Padahal yang dibutuhkan sebenarnya hanyalah kita hadapi dan jalani permasalahan tadi sambil berupaya mencari solusinya, yaitu solusi yang sebenarnya ada dalam diri kita namun dia menunggu untuk kita temukan. 

Jadi, sudah siapkah kita melewati ujian berupa kondisi sulit dalam kehidupan kita? :)

Minggu, 03 Agustus 2014

KEHIDUPAN yg tak sesuai dengan KEINGINAN

Ada banyak hal dalam hidup ini yang walaupun kita tidak suka, tapi dia tetaplah harus kita jalani karena disitulah kita akan belajar makna dari sebuah kedewasaan melalui sebuah pengorbanan


       Kita hidup tidak hanya demi diri kita sendiri, tapi juga demi orang-orang disekitar kita yang memberikan kepercayaannya pada diri kita. Ketika kecil, kita mungkin hanya memikirkan diri kita sendiri karena ketika kecil memang kita masih belajar untuk mengenal apa yang kita inginkan. Itu sebabnya ketika kecil, aktivitas kita hanya bermain dan melakukan sesuatu yang kita sukai. Ketika kita tidak menyukai sesuatu, maka kita akan menangis sambil merengek-rengek pada orang tua kita untuk meminta sesuatu yang memang kita sukai. Tapi dengan berjalannya waktu dan makin bertambahnya usia kita, sebenarnya kita dituntut untuk belajar dan memilah mana yang kita sukai dan mana yang kita butuhkan. Dari yang awalnya belum bersekolah dan hanya bermain, kita mulai dihadapkan pada rutinitas sekolah yang memaksa kita untuk mencerna banyak hal yang tidak semuanya kita sukai. Disitulah sbenarnya proses pembelajaran sedang berjalan. 
     Pembelajaran itu terus berjalan walaupun kita telah usai menjalani rutinitas sekolah selama 12 tahun. Pembelajaran selanjutnya ini di jenjang perguruan tinggi dimana kita mulai dituntut lebih keras lagi untuk memahami tanggungjawab kita secara utuh. Ketika pada saat sekolah kita “dipaksa” dengan rutinitas sekolah, ketika masuk bangku perkuliahan kita lebih diberi kebebasan untuk melakukan apa yang kita inginkan meskipun sebenarnya tetap ada tanggung jawab disitu untuk menjalani proses studi kita hingga usai. Di step ini, proses untuk menerima hal yang tidak kita sukai sebenarnya mulai berjalan lebih kompleks. Kita harus mengakui bahwa tidak semua diantara kita itu masuk di lingkungan perguruan tinggi yang memang dia harapkan dari awal. Ada banyak diantara kita yang “terpaksa” masuk ke dalam lingkup perguruan tinggi yang tidak dia harapkan atau inginkan karena banyak sebab. Tapi walaupun ada banyak sebab dimana dia tidak bisa mendapatkan perguruan tinggi yang diharapkan tersebut, semua tetap dengan tanggung jawa yang sama, yaitu ketika kita telah masuk di lingkup perguruan tinggi tersebut, suka atau tidak suka kita harus menjalaninya hingga usai. Disinilah ujian terhadap pemahaman diri kita tentang tanggung jawab sesungguhnya sedang berjalan.
     Dan ketika kita selesai di dunia perkuliahan, sebenarnya kita dianggap sudah cukup dewasa untuk memahami situasi dan kondisi di dunia nyata yang sesungguhnya, bahwa ternyata ada banyak hal dalam hidup ini yang walau tidak kita sukai, tapi tetaplah harus kita jalani. Bagaimana rutinitas di dunia kerja yang tidak semuanya nyaman untuk dikerjakan, bahkan ada beberapa yang malah cenderung membosankan tapi tetaplah harus kita jalankan. Itu semua bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk orang-orang disekitar kita dan juga terutama keluarga kita. Sudah bukan waktunya lagi kita memikirkan kenyamanan diri kita sendiri karena saat itu sudah waktunya kita mulai memikirkan kenyamanan orang lain yang mungkin menggantungkan harapannya pada kita.
      Karena hidup itu sebenarnya bukan hanya mengenai diri kita sendiri, melainkan ada tanggungjawab moral pada orang-orang disekitar kita. Itu sebabnya kita tidak bisa menuruti egoisme kita semata dengan hanya mau melakukan apa yang kita senangi. Bukankah Manusia itu diuji dengan apa yang tidak dia sukai dan apa yang tidak dia harapkan?  Itulah sebabnya banyak permasalahan yang timbul dalam hidup manusia yang tidak kita harapkan keberadaannya. Apakah ada manusia yang hidup dengan mengharapkan permasalahan? Pasti jawabnya tidak ada. Karena semua manusia pasti ada keinginan untuk menghindari permasalahan dan hanya ingin mendapatkan apa yang membahagiakan baginya. 
      Saya kemudian mulai memahami secara perlahan ketika masuk step ini bahwa sebenarnya memang hidup ini berjalan dengan step step yang sudah diatur oleh Sang Pencipta.  Dari yang awalnya hanya tau apa yang kita inginkan, kemudian belajar memahami apa yang kita inginkan dan apa yang kita butuhkan, hingga kemudian akhirnya  kita memahami apa yang kita butuhkan dan harus kita lakukan walaupun itu tidak kita inginkan. Karena hidup itu tidak pernah seindah apa yang kita inginkan, maka kitalah yang harus menjadikan apa yang tidak kita inginkan itu menjadi sebuah keindahan :)

Mungkin itu beberapa hal yang ingin saya share pada minggu ini. Sedikit lebih panjang memang ketimbang biasanya, tapi semoga tidak mengurangi kenyamanan pembaca sekalian....

Sabtu, 26 Juli 2014

Keterbatasan dalam Usaha Manusia

"Upaya atau usaha yang dilakukan oleh seorang manusia itu ada batasnya, tak perduli sebesar apapun usaha yang dikeluarkannya"


      Tidak ada yang melarang seseorang untuk melakukan usaha dalam mencapai tujuannya. Malahan seorang manusia dalam hidupnya senantiasa dituntut untuk melakukan usaha terbaik yang dia bisa. Ketika bersekolah dituntut untuk berusaha mendapatkan nilai yang baik, ketika kuliah pun kita dituntut untuk melakukan usaha terbaik agar bisa cepat lulus dengan IPK yang terbaik, dan ketika memasuki dunia kerja kita juga senantiasa dituntut untuk mengerjakan apa yang ada di depan kita dengan maksimal. Disini kita harus paham bahwa apapun peran kita di dunia, pada dasarnya kita memang senantiasa dituntut untuk mengeluarkan usaha yang terbaik.
       Ada orang yang bilang bahwa hasil terbaik itu hanya bisa diperoleh dengan usaha yang terbaik, tapi bagaimana apabila usaha terbaik yang kita lakukan ternyata belum membuahkan hasil yang terbaik?  Disini saya mencoba menggaris bawahi bahwa sebenarnya hasil terbaik itu bukan hanya berupa apa yang kita harapkan dengan usaha kita tadi. Hasil terbaik bisa juga berupa pembelajaran yang terbaik ketika kita telah berusaha maksimal namun masih menghadapi sebuah kegagalan. Bukankah tidak ada satupun hal didunia ini yang tidak ada gunanya? Semua hal yang kita alami, baik ataupun buruk itu tetaplah berguna bagi diri kita. Begitu pula dengan usaha kita yang maksimal tapi masih berujung kegagalan itu tadi. Sesungguhnya usaha kita bukanlah berujung pada sebuah kegagalan, tapi kita hanya belum sukses untuk mendapatkannya saat ini dan untuk saat ini, pembelajaran terbaik tatkala gagal itulah yang lebih kita butuhkan. Bukankah Tuhan lebih tau apa yang kita butuhkan ketimbang diri kita? :) 
        Kita semua sebagai seorang manusia biasa di dunia ini harus sadar bahwa pada akhirnya, kita bukanlah penentu utama yang bisa membuat kita memperoleh apa yang kita usahakan tadi. Sehingga disinilah keikhlasan itu menjadi sesuatu yang sangat penting, yaitu keikhlasan untuk menerima hasil yang mungkin belum sesuai dengan usaha kita dan keikhlasan untuk menerima pembelajaran yang baik dari kegagalan yang kita rasakan untuk usaha kita selanjutnya dalam mendapatkan apa yang memang kita harapkan di awal. Dari beberapa hal yang saya coba sampaikan diatas, kesimpulan yang coba saya bagikan adalah : 

"Keterbatasan dalam usaha yang dilakukan seorang manusia itu terletak pada hasilnya dan bukan pada prosesnya. Kita boleh saja melakukan usaha semaksimal mungkin yang memang kita bisa, tapi kita tidak bisa memaksakan hasilnya apabila memang belum sesuai dengan harapan kita di awal."

Mungkin ini sedikit hal yang bisa saya share pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat bagi pembaca. :)