Author (Ivandhana)

Trainer, Writer, Licensed NLP Practitioner, Founder of Inspiring Youth Educators, Chief Executive Officer at BambuBiru Training and Development, HC Learning and Development at PT BFI Finance Indonesia Tbk.

author

KEYAKINAN untuk PERKEMBANGAN

Leave a Comment

“Dasar bodoh, udah diingatkan berkali-kali tapi masih saja melakukan kesalahan.” Umpat seorang lelaki pada rekannya. Tampaknya lelaki ini sedang menumpahkan kekesalannya pada sang rekan akibat kesalahan rekannya dalam sebuah pertandingan sepakbola yang baru saja berakhir dengan kekalahan tim mereka.

Pernahkah kita memberikan cap negatif kepada seseorang dengan ungkapan “bodoh” seperti dalam kisah diatas? Mungkin kisah hidup Adam Khoo ini dapat menjadi inspirasi tentang bagaimana seharusnya kita berhati-hati terhadap sebuah label atau cap. 

Ketika umur 12 tahun Adam dicap sebagai orang yang malas, bodoh, serta agak terbelakang. Akibatnya, ketika masuk SD, dia sangat membenci pelajaran dan hanya mau main game computer serta nonton TV. Karena tidak belajar, Adam banyak mendapatkan nilai F yang membuat dia semakin benci kepada gurunya, benci terhadap pelajaran, serta sangat membenci sekolahnya.

Saat duduk di kelas 3 dia dikeluarkan dari sekolah dan dipindahkan ke sekolah yang lain. Ketika akan masuk SMP, dia ditolak 6 sekolah dan akhirnya masuk sekolah yang paling jelek di daerahnya. Di sekolah ini, Adam Khoo termasuk yang paling bodoh. Di antara 160 murid seangkatan, Adam Khoo menduduki peringkat 10 terbawah.

Pada umur 13 tahun, Adam Khoo dikirim ke Super-Teen Program yang diajari oleh Ernest Wong, yang menggunakan teknologi Accelerated Learning, Neuro Linguistic Programming (NLP) dan Whole Brain Learning. Sejak saat itu keyakinan Adam Khoo berubah. Ia yakin bahwa dia bisa. Ernest Wong berkata bahwa, “Satu-satunya hal yang bisa menghalangi kita adalah keyakinan yang salah serta sikap yang negatif.” Kata-kata inilah yang akhirnya mempengaruhi Adam Khoo.

Dalam waktu 3 bulan rata-rata nilainya naik menjadi 70. Dalam satu tahun, dari ranking terbawah dia menduduki ranking 18. Ketika lulus SMP, dia menduduki ranking 1 dengan Nilai Ebtanas Murni A semua untuk 6 mata pelajaran yang diuji. Dia kemudian diterima di Victoria Junior College dan mendapatkan nilai A untuk tiga mata pelajaran favoritnya. Akhirnya dia diterima di National University of Singapore (NUS) dan karena di universitas itu setiap tahun dirinya menjadi juara, akhirnya Adam Khoo dimasukkan ke NUS Talent Development Program. Program ini diberikan khusus kepada 10 mahasiswa yang dianggap jenius.

Bagaimana seorang yang tadinya dianggap bodoh, agak terbelakang, dan tidak punya harapan, serta menduduki ranking terendah di kelasnya bisa berubah, menjadi juara kelas dan dianggap genius? Seperti yang sudah dijelaskan oleh Ernest Wong bahwa yang akan menghambat diri kita adalah keyakinan yang salah dan sikap yang negatif dari diri kita sendiri.

Kesuksesan Adam Khoo datang dari perubahan keyakinan yang salah menjadi keyakinan yang tepat, yaitu dari keyakinannya tentang, “Saya bodoh dan lulus saja sulit” menjadi “Kalau orang lain bisa, maka saya juga bisa.”

Read More

Tantangan dan Perkembangan dalam Perusahaan

Leave a Comment

Dio tak pernah melupakan kalimat pertama yang keluar dari orang yang ingin merekrutnya di salah satu sesi wawancara dengan perusahaan ini yaitu, “Saya tidak hanya cari orang pintar, tapi orang yang bisa dipercaya dan diandalkan.” Kala itu Dio masih sebagai berstatus mahasiswa tingkat akhir yang akan menyelesaikan studi. Sembari menanti pengumuman kelulusan studi, Dio mulai mencari-cari pekerjaan yang cocok bagi dirinya.

Dari beberapa perusahaan melakukan interview terhadap Dio, baru kali ini dia merasakan suasana yang berbeda. Dio merasa seperti ada harapan lebih dari orang yang mewawancarainya tersebut terhadap dirinya. Itulah yang membuat akhirnya Dio tertarik untuk mencoba peruntungannya di perusahaan ini. Singkat cerita, setelah melalui beberapa tahapan yang dibutuhkan akhirnya Dio pun diterima.

Tanpa terasa, hari ini sudah 10 tahun Dio berada di perusahaan ini. di tempat ini jugalah Dio mengembangkan dirinya sejalan dengan perkembangan perusahaan. banyak rekan-rekannya yang bertanya bagaimana Dio akhirnya bisa memutuskan untuk bertahan di perusahaan yang sama selama sepuluh tahun di kala banyak orang lainnya yang begitu mudahnya berganti pekerjaan dengan iming-iming benefit lebih yang mampu didapatkan.

Dio bukanlah orang yang pintar. Tapi Dio senantiasa berusaha untuk selalu dapat dipercaya dan diandalkan. Mungkin hal inilah yang akhirnya membuat Dio memutuskan untuk bertahan. Karena Dio merasa masih ada tantangan dan kepercayaan yang diberikan oleh perusahaan. Kepercayaan inilah yang akhirnya memotivasi dirinya untuk terus belajar, terus maju dan melanjutkan estafet kepemimpinan di perusahaan

Perusahaan ini pun bukanlah tempat yang sempurna. Selalu ada pro kontra dan perbedaan dalam perjalanan organisasi ini. Namun, Dio yakin bahwa di luar sana pun tidak ada perusahaan yang benar-benar sempurna. yang ada hanyalah perusahaan yang dengan segala ketidaksempurnaannya tetap mampu menjadikan karyawannya menjadi orang yang memiliki value dan bermakna bagi lingkungan sekitarnya. Dan Dio yakin bahwa di tempat inilah dirinya dapat senantiasa belajar dan berkembang kearah yang lebih baik.

Dari kisah Dio diatas, kita dapat belajar bahwa benefit bukanlah merupakan satu-satunya penentu engagement seseorang didalam sebuah perusahaan. Benefit atau materi memang penting, tapi bukan karena itulah seseorang memutuskan untuk akhirnya bertahan. Salah satu buktinya adalah, masih banyak orang yang memiliki gaji tinggi dan benefit yang baik akhirnya memutuskan untuk pergi karena dirinya tidak menemukan sesuatu yang membuat dirinya tertantang dan berkembang di sebuah perusahaan.

Karena pada dasarnya, setiap tantangan dan kepercayaan yang diberikan oleh sebuah perusahaan, itulah yang justru akan membuat setiap karyawannya tetap tergerak untuk melanjutkan perkembangan dirinya bersama perusahaan. Dan ketika seorang karyawan telah memutuskan untuk berkembang bersama sebuah perusahaan, disitulah tersimpan potensi perkembangan didalam perusahaan itu sendiri

Read More

KEBERHASILAN = KEPANDAIAN atau KETEKUNAN?

Leave a Comment

Namanya adalah Sayaka, saat kecil cita-citanya adalah memiliki teman. Cita-cita ini muncul bukanlah tanpa alasan. Dulunya, dia sering dibully dan tidak memiliki teman sehingga sering berpindah sekolah. Suatu hari, Sayaka melihat segerombolan siswi dan tertarik dengan seragam yang mereka gunakan. Ternyata seragam yang dikenakan adalah seragam sekolah swasta khusus untuk anak perempuan. Melihat ketertarikan anaknya, sang ibu pun memasukkan Sayaka ke sekolah tersebut dan meminta Sayaka untuk bersenang-senang. Maka Sayaka pun menghabiskan waktu di sekolah untuk berteman dan bersenang-senang.

Namun ternyata Sayaka justru terlalu berlebihan dalam bersenang-senang. Saat SMA, Sayaka masuk di kelas yang berisi kumpulan siswi dengan peringkat terbawah di sekolahnya. Selain itu, Sayaka kerap membuat masalah yang membuat dirinya sering terkena hukuman skors dan terancam drop out 
Menyadari masa depan anaknya terancam suram, sang ibunda pun akhirnya meminta Sayaka untuk mengikuti bimbingan belajar persiapan masuk universitas. Dari hasil tes penempatan bimbingan belajar ternyata diketahui bahwa Sayaka hanya memiliki kemampuan akademik setara kelas 4 SD.

Meski begitu, Guru Bimbel Sayaka meminta Sayaka untuk tetap optimis dan berjuang masuk salah satu Universitas terbaik di Jepang. Sayaka pun memilih Universitas Keio, universitas swasta terbaik di Jepang.

Perjuangan Sayaka untuk masuk Universitas Keio tidaklah mudah. Dia harus mengejar ketertinggalannya. Di sekolah, Sayaka berada di ranking terbawah dengan nilai standar deviasi 30 sementara yang masuk Keio biasanya memilki nilai standar deviasi 70. Melihat kondisi Sayaka ini, sang ayah justru mengejeknya dan meyakini bahwa Sayaka tak akan bisa diterima di universitas Keio. Sayaka pun makin termotivasi untuk membuktikan diri kepada orang tuanya bahwa dia bersungguh-sungguh dengan tujuannya. Walaupun memiliki banyak keterbatasan, namun akhirnya Sayaka berhasil lulus tes Universitas Keio di Jepang dengan ketekunannya.

Ketekunan adalah sesuatu yang menggerakkan kita menuju kesuksesan dengan lebih efektif ketimbang sebuah kepandaian. Mengapa demikian? Karena orang-orang yang pandai, biasanya cenderung tidak sabar dalam menjalani proses yang dibutuhkan. Kepandaian yang dimiliki terkadang membuat mereka merasa seharusnya mudah untuk mendapatkan sesuatu. Maka, setiap kendala atau permasalahan didalam proses menuju apa yang ingin mereka dapatkan tersebut akan cenderung membuat mereka mudah menyerah.

Dan begitu pula sebaliknya dengan Sayaka dalam kisah diatas, menyadari bahwa dirinya kurang pandai membuat dia mengerahkan upaya semaksimal mungkin untuk mengimbangi kekurangannya tersebut. Hal ini mendorong motivasinya untuk berusaha lebih keras dan lebih tekun menjalani proses di tengah keterbatasan yang dimilikinya sehingga akhirnya keberhasilan pun mampu dia dapatkan

Maka, tidak perlu merasa risau jika hari ini kita merasa belum pandai, karena yang terpenting sesungguhnya bukanlah kepandaian yang kita miliki, melainkan ketekunan yang kita tunjukkan dalam proses menuju keberhasilan yang kita dapatkan

Read More

PEMAHAMAN TENTANG SEBUAH KEINGINAN

Leave a Comment

Memahami apa yang kita inginkan itu penting agar kita mengetahui langkah yang dibutuhkan. Kisah dibawah ini, mungkin dapat menggambarkan pentingnya memahami apa yang kita inginkan dari setiap permasalahan yang kita rasakan.

Seorang lelaki terlihat sedang duduk di kantin sebuah gedung perkantoran di kawasan Jakarta. Raut wajah lelaki ini menyiratkan bahwa dirinya sedang menghadapi permasalahan yang serius. Sapaan ceria dari beberapa rekan yang lalu lalang disekitarnya tak membuat lelaki ini merubah raut wajah sedikitpun. Karena penasaran, salah seorang diantara rekan yang memberikan sapaan tadi mendatangi sang lelaki untuk kemudian memberikan pertanyaan.

“Kamu kenapa?”

“Aku lagi dilema nih. Sepertinya aku harus pindah kerja. Selain karena standar gaji disini nggak sesuai ekspektasi, aku merasa nggak cocok dengan atasanku juga.”

“Memangnya kamu pingin kerja dimana?”

“Nggak tahu. Yang jelas aku merasa nggak cocok dengan lingkungan kerja disini.”

“Memangnya kamu cocoknya dengan lingkungan kerja yang seperti apa?”

Tampaknya, Lelaki ini tidak mampu menjawab pertanyaan terakhir dari rekannya tadi.
Banyak diantara kita yang sering merasakan ketidakcocokan atas suatu kondisi. Ketidakcocokan ini biasanya muncul dengan beragam alasan, mulai dari permasalahan dengan atasan, keuangan ataupun masalah dengan lingkungan kerja disekitarnya.

Namun ketika ditanya lebih jelas tentang bagaimana kondisi ideal yang diharapkan dari sebuah tempat kerja, seringkali kita membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan jawabannya. Dalam beberapa kesempatan lain, kita juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut. Sebagian orang bahkan lebih suka menggambarkan kondisi ideal yang dia harapkan dengan kalimat, “ yang penting tidak seperti disini.”

Padahal, mengetahui dengan detail dan jelas tentang sesuatu yang ingin kita dapatkan atau ingin kita tuju itu sangat penting agar kita semakin memahami langkah yang perlu dilakukan untuk bisa mencapai tujuan tersebut. Karena ketidaktahuan tentang kemana kita ingin menuju seringkali membuat diri kita akhirnya memilih tempat yang salah lainnya.

Contohnya adalah dalam hal memilih tempat kerja seperti kisah diatas. Kita boleh saja memutuskan untuk pergi dari lingkungan kerja kita saat ini dengan berbagai pertimbangan yang kita miliki sendiri. Namun ketika kita sendiri belum memahami lingkungan kerja seperti apa yang sesungguhnya ingin kita cari, maka cukup besar kemungkinan diri kita salah memilih tempat kerja lagi. Dampaknya, tentu saja akan mengganggu perkembangan karir diri kita di tempat kita bekerja nantinya.

Maka, jika saat ini kita masih merasakan ketidaknyamanan didalam pekerjaan kita, pastikan kita telah memahami terlebih dahulu lingkungan pekerjaan seperti apa yang kita harapkan. Sehingga kita mampu merancang langkah kita dengan lebih baik menuju lingkungan kerja yang sesuai dengan harapan kita sendiri. Hal ini dibutuhkan untuk menghindari penyesalan yang bisa saja kita rasakan di masa depan.

Read More

CINTA DAN FOKUS YANG DIBUTUHKANNYA

Leave a Comment

“Aku suka sama kamu” seorang pria berkata pada wanita yang ada di dekatnya.

Wanita ini tampak kaget dan terlihat tidak siap mendengar kalimat yang diucapkan oleh teman lelakinya tadi sehingga membuat sang wanita terdiam beberapa saat. Dalam diamnya ini, terlihat jelas bahwa sang wanita memikirkan jawaban yang harus dia berikan pada sang lelaki.

Setelah terdiam selama 5 menit, wanita ini menjawab dengan kalimat, “Maaf, aku mau fokus dulu.”
Pernahkah kita menyatakan cinta kepada sang pujaan hati kemudian dia berkata, “Maaf, Aku mau fokus dulu” seperti kisah diatas? bagi sebagian diantara kita pasti berkata bahwa itu adalah alasan atau akal-akalan dari kaum wanita yang sebenarnya memang ingin menolak kaum pria. Tapi bagaimana kalau ternyata alasan itu adalah benar adanya? 

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Henk van Steenbergen bersama beberapa orang dari Leiden University dan The University of Maryland menyatakan bahwa hubungan asmara sejatinya membuat produktivitas kita berkurang. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya manusia tidak akan mampu fokus pada banyak hal disaat yang sama. Ketika kita fokus pada sesuatu, maka kita akan mengeluarkan kemampuan yang kita miliki untuk menyelesaikan satu hal yang kita fokuskan tadi. 

Dalam penelitiannya, Steenbergen melakukan analisa pada 43 peserta yang sudah berhubungan selama kurang dari 6 bulan. Para relawan diminta untuk melakukan beberapa tugas untuk mengetahui bagaimana tingkat produktivitas dan kemampuan otak untuk fokus pada suatu masalah. Hasilnya menunjukkan bahwa gairah cinta yang timbul pada diri relawan membuat pola pikir dan konsentrasi berkurang sehingga kemampuan untuk menyelesaikan tugas pun berkurang.

Lantas apa yang harus kita lakukan setelah melihat studi diatas? Apakah kita dilarang merasakan sebuah cinta? Bukankah perasaan cinta adalah sesuatu yang wajar dimiliki dalam diri manusia? 

Yang harus kita sadari adalah studi diatas bukan bermaksud untuk menghindarkan diri kita dari perasaan yang mungkin dapat muncul dalam hati, melainkan agar kita lebih mawas diri dan belajar cara menyikapi setiap keadaan dengan lebih bijaksana. Ketika kita tahu bahwa perasaan tersebut dapat mengurangi fokus kita, maka kita harus lebih berhati-hati dan jangan sampai perasaan tersebut akhirnya mengganggu rutinitas atau aktifitas lain yang memang sudah menjadi tanggung jawab kita. 

Bukankah dampak baik atau buruknya sesuatu itu ditentukan oleh cara kita sendiri dalam menyikapi setiap keadaannya?


Read More

PERASAAN dan sebuah KERELAAN

Leave a Comment

Cinta itu bukanlah tentang bagaimana menafsirkan sebuah rasa. Melainkan cinta juga tentang kerelaan untuk menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan diri kita untuk kepentingan yang jauh lebih besar nantinya.

“Entah kenapa perasaanku ini sudah pas banget sama dirinya.” 

“Aku nggak mau kalo nggak sama kamu pokoknya.”

“Aku tidak bisa hidup tanpamu.”

Pernahkah kita mendengarkan beberapa kalimat diatas dalam aktifitas sehari-hari kita? Walau terdengar berlebihan, namun beberapa kalimat diatas sering kita dengar di beberapa sinetron televisi yang membahas tentang percintaan remaja. Topik tentang percintaan memang menjadi salah satu topik yang menarik untuk ditayangkan melalui televisi karena cukup banyak peminatnya, terutama dari generasi muda kita.

Sayangnya minat yang besar dari masyarakat tentang topik percintaan ini tidak disertai dengan tanggung jawab dalam hal penyediaan konten. Minat besar yang harusnya digunakan untuk konten-konten yang positif dan mendidik, justru akhirnya dimanfaatkan untuk dieksplor lebih dalam. 

Akhirnya banyak remaja yang salah dalam menafsirkan sebuah rasa. Dampaknya, membuat para remaja ini terlalu fokus pada perasaan mereka masing-masing seperti yang digambarkan dalam kalimat-kalimat di awal tadi. Hal ini akhirnya menghilangkan kepekaaan mereka untuk memahami rasa cinta dalam kaitannya dengan kepentingan lain yang jauh lebih besar.

Lantas bagaimana seharusnya kita memaknai sebuah rasa? Mungkin kisah pejuang nasional Aceh dibawah ini dapat menjadi salah satu referensi tentang bagaimana kita menyikapi sebuah rasa
Tjoet Nyak Meutia atau sering disebut juga Cut Mutia adalah pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh. Ia dimakamkan di Alue Kurieng, Aceh. Ia menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964.

Awalnya Tjoet Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Tjik Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nagroe agar mau menikahi istrinya.

Tjoet Meutia kemudian menikah dengan Pang Nagroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya dibawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Tjoet Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan. 
Tjoet Meutia kemudian bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukkannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Namun pada tanggal 24 Oktober 1910, Tjoet Meutia bersama pasukkannya bentrok dengan Marechausée di Alue Kurieng. Dalam pertempuran itu Tjoet Meutia gugur.

Kerelaan Cut Meutia mengikuti wasiat suaminya untuk menikah kembali dan meneruskan perjuangannya mengajarkan satu hal penting bagi diri kita. Bahwa ternyata rasa cinta tidak hanya tentang sebuah rasa antara dua orang saja, melainkan juga mengenai kerelaan untuk menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan demi masa depan.

Pernikahan yang dilakukan kembali oleh Cut Meutia sepeninggal suaminya bukan mengindikasikan bahwa Cut Meutia tidak mencintai suaminya tersebut. Namun justru sebagai simbol bahwa sebesar apapun cinta yang mereka berdua rasakan, tetaplah harus dibangun diatas kesadaran tentang kepentingan yang jauh lebih besar, yaitu perjuangan melawan penjajah yang masih harus mereka tuntaskan. 

Maka, kita boleh saja mencintai dan meluapkan rasa yang kita punya, namun jangan sampai hal tersebut dilakukan berlebihan yang akhirnya membuat kita melupakan hal-hal yang lebih besar disekitar kita. 


Read More

Kecerdasan dalam Hubungan

Leave a Comment

Kecerdasan pikiran bukanlah segalanya, karena yang juga dibutuhkan dalam kehidupan adalah kecerdasan didalam membangun sebuah hubungan. Sejak kecil, Vian memang tidak terlalu pintar dalam mata kuliah yang berhubungan dengan angka dan statistika. Entah kenapa mata kuliah ini terasa sangat memberatkan dirinya. Vian mendapatkan nilai D untuk pelajaran ini selama beberapa semester lalu.

Namun Vian tidak putus asa, dia tak pernah berhenti mencoba dan berusaha. Berbagai metode belajar dia terapkan dalam kesehariannya yang membuatnya kerap begadang semalaman. Tapi Vian tak pernah mengeluh karena dia merasa ini adalah usaha yang memang harus dia perjuangkan

Akhirnya pengumuman hasil ujian akhir semester pun tiba. Hasil perjuangan Vian ternyata terbayar lunas karena akhirnya dirinya mampu mendapatkan nilai B. Betapa senangnya Vian ketika itu. Saking senangnya, Vian berencana memasang hasil nilainya di dinding kamarnya sebagai motivasi untuk mata kuliah lainnya. Vian kemudian bercerita kepada Iko salah seorang teman dekatnya.

“Ko akhirnya statistik ku dapet nilai B“  ujar Vian

“Ah baru dapat nilai B saja udah seneng, aku yang dapet A aja biasa-biasa aja“, sahut Iko.

Sejak di sekolah dasar, Iko memang terkenal pintar di kelasnya dan selalu masuk ke dalam rangking 3 besar di kelas. Vian yang saat itu sedang berbinar-binar dan semangat bercerita tiba-tiba langsung terdiam ketika mendengar komentar dari Iko. Kebahagiaannya perlahan meredup dan digantikan dengan kekecewaan.

Sikap yang ditunjukkan oleh Iko memberikan gambaran pada diri kita tentang orang-orang yang memiliki EQ rendah. Walaupun orang-orang tersebut pintar secara akademis, namun dalam menjalani aktifitasnya, orang-orang tersebut mengalami kegagalan dalam memahami perasaan orang lain disekitarnya

Sekarang, mari kita lihat situasi selanjutnya 

“Vian, kenapa kamu keliatan sedih hari ini?” sapa Intan begitu masuk ke kelas.

“aku cuman dapet nilai B dalam statistik” ujar Vian dengan nada lesu

“Wow hebat donk, kamu sempet ngulang lagi kan kemaren gara-gara dapet D. Bagus donk sekarang dapet B“, hibur Intan kepada Vian.

“Nggak perlu risau dan nggak perlu terlalu dipikirkan juga Vian. Walaupun belum maksimal, tapi setidaknya kamu kan sudah berusaha giat untuk mengejar nilai ini. Malah aku salut melihat mahasiswa yang punya semangat untuk berubah seperti dirimu.” ujar Intan membanggakan Vian.

Apa yang bisa kita pelajari dari dua jenis situasi diatas?

Begitulah kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ itu bekerja. Orang-orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi cenderung mampu memahami perasaan orang lain disekitarnya seperti yang dilakukan Intan. Walau Intan sebenarnya juga tidak kalah pintar dalam pelajaran dibandingkan Iko, namun dia juga pintar memahami perasaan orang lain.

EQ membantu kita menjadi seseorang yang sukses dalam menjalani kehidupan sosial dalam keseharian. Karena EQ membuat kita lebih peka terhadap kebutuhan perasaan atau emosi orang lain sehingga kita kemudian memahami langkah untuk mengatasinya. Itu sebabnya banyak pihak yang sepakat bahwa EQ atau kecerdasan emosional adalah salah satu kunci sukses diri kita didalam karir dan pekerjaan kita.

Read More
Previous PostPosting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.