Author (Ivandhana)

Trainer, Writer, Inspirator Mutiarahati, Emotional Management Specialist, Founder of Inspiring Youth Educators, HC Learning and Development at PT BFI Finance Indonesia Tbk.

author

Belajar dari Integritas

Leave a Comment
“integritas itu bukan hanya sekedar tentang kejujuran, melakukan sesuatu yang menjadi tanggungjawabnya dan senantiasa patuh pada nilai-nilai yang berlaku, namun integritas juga tentang bagaimana menyesuaikan nilai yang kita yakini dengan perkataan dan tindakan kita yang kemudian menjadi pedoman dalam setiap keputusan yang kita ambil”


“pak, saya mau resign”

Tulisan diatas terlihat di layar HP saya beberapa waktu lalu.

Beberapa saat setelah membaca tulisan tersebut, pikiran saya lantas membayangkan momen sekitar setahun lalu, yaitu momen pertemuan pertama kalinya dengan seseorang yang menulis message diatas. Kala itu saya masih sebagai seorang kepala operasional yang mengurusi persiapan pembukaan sebuah cabang perusahaan. Karena kantor cabang akan segera beroperasi, maka saya pun ditugaskan untuk mencari beberapa orang lain untuk melengkapi Sumber daya Manusia yang dibutuhkan untuk operasional perusahaan. Saya yang kala itu sebagai kepala operasional pun merangkap menjadi seorang HrD yang melakukan perekrutan kepada beberapa orang. Dan disaat itulah saya bertemu dengan dia. Sebut saja Namanya Afria

Dibanding pelamar lainnya, bisa dibilang dia cenderung menonjol baik dari segi kemampuan teknis maupun dari cara berkomunikasi. Itu yang ada di pikiran saya kala itu. Dari segi attitude pun dia tergolong baik dan sopan. Namun ketika saya melihat CV nya ketika melakukan wawancara ada satu hal yang cukup mencolok, yaitu dia beberapa kali berpindah pekerjaan di beberapa perusahaan dalam jangka waktu yang relatif cepat. Padahal, dari segi salary, di perusahaan sebelumnya dia mendapatkan lebih besar ketimbang yang perusahaan saya tawarkan. Lantas apa yang membuat dia akhirnya melamar di tempat saya?

“Integritas pak.” Itulah Jawabannya kala itu ketika saya menanyakan pertanyaan diatas

Usut punya usut, ternyata Lingkungan di tempat kerja sebelumnya dianggap kurang memiliki integritas karena nur melihat beberapa hal yang tidak benar disitu dan dirasa menyimpang. Mulai dari penyelewengan di satu bagian hingga beberapa hal negatif lainnya yang dianggap kurang tepat. Hal itu menyebabkan hati nuraninya pun menyerah dan memutuskan untuk resign. 

“oke, seandainya nantinya kamu bergabung dengan kami, nah kira-kira bagaimana kamu meyakinkan saya bahwa kebiasaanmu berpindah-pindah tempat kerja yang sebelumnya itu tidak kamu lakukan kembali di tempat ini?”

“bapak sudah mendengar alasan saya berpindah-pindah itu bukan? Saya memang tidak bisa menjanjikan bahwa saya akan lama di tempat ini karena saya baru akan melamar dan tidak terlalu suka mengobral janji, tapi saya bisa pastikan bahwa ketika saya menemukan sebuah tempat yang pas dengan nilai yang saya yakini, maka saya tidak akan hanya 2 atau 4 bulan disana. Saya juga memiliki prinsip bahwa selama ada hal baru yang bisa saya pelajari setiap harinya, maka disitulah saya mampu berkembang dan saat ini saya membutuhkan lingkungan baru yang mendukung prinsip saya itu pak.”

Integritas adalah sebuah konsep konsistensi tindakan, nilai-nilai, langkah, prinsip, harapan dan hasil. Menurut KBBI, integritas adalah sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Sedangkan bagi saya pribadi, integritas adalah kesesuaian antara perilaku dan tindakan yang kita perlihatkan dengan nilai-nilai atau prinsip yang kita yakini sehingga pada akhirnya mampu memunculkan kewibawaan diri kita di mata lingkungan sekitar kita. 

Dalam cerita diatas, bagi saya nur sudah membuktikan kesesuaian antara perkataan dan janjinya setahun lalu walaupun sempat saya ragukan. Dari dia saya memahami satu hal bahwa integritas itu bukan hanya sekedar tentang kejujuran, melakukan sesuatu yang menjadi tanggungjawabnya dan patuh pada nilai-nilai yang berlaku namun integritas juga tentang bagaimana menyesuaikan nilai yang kita yakini dengan perkataan dan tindakan kita yang kemudian menjadi pedoman dalam setiap keputusan yang kita ambil. Setahun memang tidak bisa dibilang lama bagi seorang karyawan untuk bekerja di sebuah tempat, namun itu juga tidak bisa dibilang singkat bagi seseorang yang sebelumnya beberapa kali berpindah tempat kerja tiap beberapa bulan sekali. Saya yakin sudah banyak hal yang dia pelajari setahun ini sehingga kemudian dia merasa ilmu yang dia harapkan sudah cukup dan membutuhkan tantangan baru kembali. Sama seperti kalimatnya pada saya waktu itu tentang prinsipnya bahwa dia selalu membutuhkan tantangan dan pembelajaran baru dimanapun dia berada. Dan dari lubuk hati saya yang terdalam, saya berdoa untuk kesuksesannya semoga dimanapun dia berada, dia mampu menjaga prinsipnya tadi sehingga akan lebih banyak lagi orang lain yang belajar dari integritasnya. :)

Read More

Makanan untuk Pembelajaran Kehidupan

Leave a Comment

      Seorang laki-laki melihat kearah jam tangannya yang menunjukkan pukul 16.00 WIB. Selepas melihat kearah jam tersebut pandangan matanya lantas fokus pada kondisi di luar tempat dia berada saat ini yang tampaknya sedang diselimuti rintik hujan yang cukup deras. Tubuhnya tampak gelisah dan ingin segera beranjak dari tempat tersebut namun cuaca seakan tak mendukung. Sebuah gelas diatas meja sang pemuda itu terlihat sudah kosong. Pemuda tersebut lantas memanggil seseorang di pojok ruangan dan memintanya untuk membawakan satu jenis minuman baru sebagai pengganti gelas yang sudah kosong tadi meskipun dari raut wajahnya terlihat sebuah wajah yang kesal dan kurang nyaman dengan tempat dia berada saat ini. 

      Pemuda itu sebenarnya adalah saya sendiri yang ketika itu sedang kesal karena merasa salah pilih menu masakan di sebuah restoran yang baru saja buka. Saya adalah penggemar kuliner, sehingga ketika berjalan-jalan atau travelling ke suatu tempat, maka yang saya cari pertama kali disitu adalah tempat kulinernya. Dan kisah diatas itu adalah satu potret ketika saya terjebak hujan di sebuah tempat makan yang menurut saya kurang direkomendasikan menu makanan didalamnya namun saya tidak bisa beranjak pergi. Apakah kondisi tersebut membuat saya tidak nyaman? Awalnya iya, namun pada akhirnya saya justru merasa enjoy karena kondisi seperti kemarin lah yang kemudian membuat saya menemukan pembelajaran tentang kehidupan dan juga membuat saya akhirnya menyadari bahwa kadang kita harus bertahan sejenak ditengah sebuah keadaan yang tidak ideal untuk kemudian menyadari manfaat dari keadaan tersebut bagi diri kita.

Hah? Bagaimana bisa makanan membuat saya belajar tentang kehidupan? Bagaimana sebuah makanan membuat saya bisa menyadari manfaat sebuah keadaan yang tidak ideal? Jawaban atas pertanyaan tersebut ada didalam status path yang akhirnya saya buat ketika saya sedang terjebak di tempat makan tersebut, yaitu seperti yang dibawah ini :

"Selalu ada sensasi tersendiri ketika kita mencoba merasakan sebuah makanan yang baru pertama kali kita coba. Selanjutnya lidah kita biasanya akan menentukan cocok atau tidaknya citarasa makanan tersebut dengan selera kita"

"Hal ini sama halnya dengan ketika kita menjalani kehidupan kita, selalu ada sensasi tersendiri ketika kita mencoba masuk ke dalam situasi baru yang belum pernah kita temui. Selanjutnya, pikiran dan hati kita lah yang akan menilai kemampuan kita didalam beradaptasi dengan lingkungan yang baru tersebut. Jika kemudian hati kita merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut, apakah kemudian kita harus pergi?"

Belum tentu

"Karena didalam menjalani kehidupan itu tidak sesederhana mencicipi sebuah makanan. Kadang ada beberapa bagian kehidupan yang walaupun terasa tidak nyaman dan penuh kesulitan, tetap harus kita jalani  demi sebuah proses yang bernama PENDEWASAAN."


Kondisi yang tidak ideal (dimana saya harus bertahan di tengah hujan di sebuah tempat yang saya kurang nyaman) pada akhirnya membuahkan pembelajaran bagi diri saya tentang kenyamanan dan pendewasaan dalam kehidupan. Itulah yang ingin saya bagi pada rekan pembaca melalui tulisan ini, bahwa terkadang kita harus bertahan sejenak didalam kondisi yang tidak nyaman untuk kemudian memperoleh pemahaman tentang manfaat yang kita dapatkan. jadi, "jangan mudah menyerah pada ketidaknyamanan, namun cobalah bertahan untuk memahami apa manfaat yang mampu kita dapatkan dari sebuah keadaan".

Read More

Kedekatan Hati dan Kekuatan Visi

6 comments

     Ada yang pernah bilang pada saya bahwa kunci keberhasilan adalah fokus pada proses dan persiapan yang matang. Namun kejadian yang baru saja alami beberapa hari lalu seakan membuka pandangan saya lebih luas, yaitu kesuksesan sebuah tim tidak hanya dibentuk dari persiapan dan proses yang matang, melainkan juga dibentuk melalui kedekatan hati dan kekuatan visi.

     Kisahnya dimulai sekitar sebulan yang lalu ketika tanpa sengaja saya diundang masuk ke dalam sebuah grup yang diminta untuk memberikan penampilan dalam “Art War” di acara kopdar Stifin Nasional, yaitu sebuah acara pertemuan rutin komunitas Stifin se Indonesia. Grup yang beranggotakan 9 orang ini terdiri dari 2 orang admin dan 7 orang yang nantinya akan tampil. Dari 9 orang tersebut, 1 diantaranya berdomisili di Batam,  2  domisili bandung dan sisanya berada di lingkungan Jabodetabek. Perbedaan lokasi domisili tentunya memiliki potensi kesulitan tersendiri dalam sebuah koordinasi, pikir saya ketika itu. Singkat cerita, grup kami pun mulai beraktifitas. Dimulai dengan perkenalan diri, dijalani dengan obrolan antar pribadi dan diselingi dengan pembahasan tentang penampilan kami menjadi rutinitas sehari-hari. Selama persiapan, kami terhitung hanya dua kali mengadakan pertemuan secara langsung yang itupun hanya dihadiri oleh beberapa personil yang berdomisili di jakarta sedangkan sisanya tidak bisa hadir karena lokasi geografis yang kurang mendukung. Ketika pertemuan secara langsung pun tidak banyak pembahasan yang kami lakukan tentang persiapan acara. Dalam pertemuan, kami lebih cenderung menggunakan waktu kami untuk ngobrol dan bersenda gurau bersama. Kebetulan memang kami yang tergabung dalam grup, memiliki kegemaran yang sama, yaitu gemar mengobrol dan sedikit lebay yang menurut ilmu stifin, kami digolongkan ke dalam pemilik mesin kecerdasan Feeling. Sehingga memang tak mengherankan apabila kemudian ketika pertemuan secara langsung, tanpa kami sadari waktu yang ada hanya dihabiskan untuk mengobrol dan sharing tentang aktifitas kami masing-masing. Tanpa terasa, waktu tampil pun kian dekat tanpa kami pernah sekalipun mempraktikkan konsep penampilan kami secara langsung dan sejujurnya konsep kami pun belum benar-benar matang. Jadi, bisa dibilang persiapan kami cukup minim. Sehari sebelum penampilan, saya pun mulai merasa was-was apakah penampilan kami bisa maksimal nantinya. 

Saya akan skip kondisi ketika kami penampilan.

Saya akan langsung melanjutkan kisah ini, beberapa saat ketika acara usai, dan beberapa penonton memberikan testimoninya pada penampilan kami yang baru saja usai, yaitu : 

- Tim Feeling keren + Heboh
- Beneran, kalo gak ada tim artwar feeling ini acara bakal garing banget
- Saya nggak bisa berkata-kata melihat persiapan dan penampilan mereka di panggung

Dan banyak penonton yang mengucapkan selamat pada tim kami.

Bisakah rekan-rekan pembaca menebak bagaimana penampilan kami dari beberapa komentar diatas? 
Ya benar sekali, penampilan kami hari itu sukses membuat audience tertawa dan terhanyut didalam acaranya. Jika saya kemudian di tanya, apakah yang membuat kesuksesan penampilan kami hari itu adalah karena persiapan yang matang, tentu dari cerita diatas sudah bisa ditebak kalau persiapan kami belumlah matang. Lantas apa yang membuat kami bisa memberikan penampilan terbaik kami?  jawabannya adalah karena adanya kedekatan hati dan kekuatan visi

Kedekatan Hati : 
Kedekatan hati diantara kami, membuat kami jadi saling mengisi. Kami tidak berusaha saling menyalahkan rekan se tim kami bila ada sesuatu yang dianggap kurang tepat. Tapi kami saling mengisi, menguatkan dan saling membantu untuk mencapai tujuan kami. ada pepatah yang mengatakan bahwa “ini bukanlah tentang kemampuanku atau kemampuanmu, melainkan ini tentang kemampuan kita”. Artinya kedekatan hati membuat diantara kami tidak lagi mempermasalahkan ego pribadi, namun telah berubah menjadi semangat untuk saling mengisi demi memberikan yang terbaik kepada para audience kami. 

Kekuatan Visi :
Visi mampu membuat kita mengeluarkan kemampuan terbaik yang kita miliki. Dengan memiliki visi, kita akan selalu tau tujuan kita dan jadi mampu merancang langkah yang kita perlukan untuk mencapai visi tersebut. Sama seperti apa yang kami rasakan didalam penampilan kami. kami memang belum pernah berlatih sekalipun tentang apa yang kami lakukan di panggung nanti, namun kami semua sama-sama mengetahui dan menyepakati visi atau tujuan bersama yang ingin kami raih di dalam penampilan tim kami, sehingga hal ini menciptakan harmonisasi didalam tim kami sehingga masing-masing dari kami mengeluarkan kemampuan terbaiknya didalam mencapai tujuan tim yang telah disepakati itu.

Jadi, bagi rekan-rekan pembaca yang mungkin sedang didalam proses membangun sebuah grup menuju penampilan terbaiknya baik itu di dalam maupun di luar perusahaan atau organisasi lainnya, jangan hanya terfokus pada persiapan teknis yang terlihat dari anggota tim, melainkan fokus jugalah pada bagaimana membangun kedekatan hati antar personil yang dibentuk diatas pondasi visi yang jelas dan mampu menggerakkan seluruh anggota tim untuk ikut ambil bagian didalamnya, karena disitulah pintu keberhasilan akan senantiasa terbuka.



Foto Beberapa saat sesudah tampil


Terimakasih....
Tulisan ini dipersembahkan khusus untuk Tim “Art War” Feeling :
Kang Dimmy, Mbak Ely, Kang Deden, Mbak Dwi, Mas Julman, Bang Radit, mbak Neeta, dan mbak Sri 
di Kopdar Stifin tahun 2016



Ivandhana

Read More

Impian dan Pembelian barang di pusat perbelanjaan

Leave a Comment

       Pernahkah rekan-rekan pembaca menuju sebuah pusat perbelanjaan atau mall namun belum tau stan atau penjual yang ingin dikunjungi di pusat perbelanjaan tersebut? Atau bahkan mungkin pergi menuju pusat perbelanjaan dengan membawa sejumlah uang namun belum tau barang apa yang akan dibeli setibanya disana? Kira-kira apa yang akan terjadi disana? Beberapa diantara kita pasti berpendapat bahwa kita akan berjalan-jalan memutari pusat perbelanjaaan tersebut sembari mencari dan memperkirakan barang apa yang ingin dibeli bukan? Kira-kira berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk menemukan barang yang mau kita beli tersebut? Bisakah rekan-rekan memperkirakannya?

       Nah sekarang mari kita bandingkan dengan rekan-rekan memiliki sebuah barang yang ingin dibeli dan selanjutnya mencatat barang yang akan dibeli tersebut. Setelah memegang sejumlah uang yang diperlukan, lalu rekan-rekan pergi ke pusat perbelanjaan atau mall untuk membeli barang yang diinginkan tersebut. Pertanyaan saya selanjutnya adalah, berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk menemukan barang yang ingin kita beli di mall tadi? 

       Lebih cepat mana kita nantinya akan mendapatkan barang yang kita inginkan? Dalam kisah pertama atau kisah kedua? Tentunya relatif lebih cepat dalam kisah kedua bukan? Mengapa kita akan jadi lebih cepat mendapatkan barang yang kita inginkan di kisah kedua? Karena sejak awal kita sudah tau barang yang ingin kita beli, sehingga ketika kita telah memiliki dana atau kesempatan untuk membelinya maka kita akan jadi lebih cepat dalam memperoleh barang tersebut. Sekarang bandingkan kembali dengan apabila kita tidak tau barang apa yang ingin kita beli sejak awal walaupun kita sudah memiliki sejumlah uang. Yang akan terjadi selanjutnya adalah kita akan memutar-mutar di pusat perbelanjaan untuk mencari barang yang kita beli dan kemudian kita akan cenderung membeli barang yang kita inginkan walaupun itu belum tentu kita butuhkan setibanya di rumah nanti.

       Kisah pengalaman diatas inilah yang kemudian membuat saya merasakan pentingnya kita merumuskan impian kita dengan jelas saat ini. Mungkin masih ada beberapa orang di luar sana yang merasa bahwa merumuskan dan menuliskan impian kita dengan jelas itu tidak memiliki efek yang berarti dalam hidupnya. Namun, bagi saya menuliskan impian itu tetaplah menjadi sesuatu yang penting. Selain karena pengibaratkan yang sudah saya ceritakan diatas, juga dikarenakan manusia memiliki sifat yang pelupa. Sehingga ketika kita sedari awal tidak menuliskan impian kita dengan jelas, kita akan cenderung lupa di tengah rutinitas kita sehingga kemudian kita kehilangan arah yang ingin kita tuju dan capai sehingga kemudian terkesan menjalani kehidupan sekedarnya saja. 

Jadi, bagi rekan-rekan pembaca yang ingin memiliki hidup yang lebih terarah dan tidak sekedar menjalani saja, jangan lupa untuk menuliskan setiap impian rekan-rekan. karena bagi saya pribadi, “Impian atau harapan adalah sebuah doa dalam bentuk keseharian yang akan senantiasa meneguhkan hati dan pemikiran”

Read More

Pembelajaran Masa lalu untuk Persiapan Masa depan

Leave a Comment

     Quote diatas menjadi tulisan yang pertama kali saya unggah di media sosial di tahun 2016 ini. Sebuah quote yang bagi saya pribadi menjadi inspirasi dalam diri saya dalam menghadapi detik perpisahan dengan tahun 2015 menuju tahun 2016 yang baru saja dimulai hari ini. 
    Mengakhiri tahun 2015 di bulan desember kemarin saya menghabiskannya dengan beberapa perjalanan atau trip yang saya agendakan bersama beberapa teman-teman. Seperti yang saya lakukan ke bandung sekitar 3 minggu yang lalu, serta ke Kota Malang, Batu serta Kabupaten Jember minggu lalu. Di daerah yang saya sebutkan terakhir ini saya menghabiskan waktu bersama orang tua serta adik-adik saya dan beberapa sahabat lama saya.
     Bagi saya, setiap perjalanan yang pernah saya lakukan di tahun 2015 adalah sebuah pembelajaran. Setiap kebersamaan yang saya rasakan bersama sahabat, kawan atau keluarga adalah sebuah pembelajaran tentang bagaimana diri ini mengambil posisi di dalam lingkungan. Apakah kita ingin hanya sekedar sebagai penikmat yang menjalani hidup sekedar mengalir saja, sebagai pembelajar yang senantiasa belajar dari pengalaman kesehariannya, sebagai seseorang yang memiliki pengaruh terhadap lingkungannya, ataukah kita ingin mengambil posisi sebagai ketiganya yang tentunya ini tergantung pada pilihan yang kita ambil dan tindakan yang kita lakukan dalam menjalani kehidupan kita sendiri.  Selain itu, kebersamaan yang saya rasakan juga sebagai sarana untuk senantiasa menilai dan melakukan evaluasi atas kebermanfaatan diri bagi lingkungan saya. Sudahkah saya memberikan manfaat bagi orang-orang disekitar saya atau justru saya hanya menjadi seseorang yang ingin mendapatkan manfaat belaka tanpa mau berbagi manfaat. Bagi saya, yang membuat seseorang berharga itu bukanlah karena sekedar faktor kedudukan atau jabatannya, melainkan karena kebermanfaatan yang mampu ditimbulkannya. Jabatan hanyalah sebuah titel yang lebih fokus kepada bagaimana kita dilihat dan tidak selalu sejalan dengan tingkat manfaat yang telah kita berikan. Artinya, tanpa memegang sebuah jabatan sekalipun, kita tetaplah bisa dilihat dan dipandang positif oleh lingkungan kita melalui manfaat yang kita berikan sebagai seorang manusia 
     Di penghujung tahun 2015 ini dari banyak aktifitas yang saya jalani, saya merasa jauh banyak belajar tentang diri saya sendiri sebagai seorang manusia ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Mungkin ini disebabkan karena di tahun 2015 lalu adalah tahun yang mengawali perjalanan hidup saya di bidang yang memang sudah sejak lama menjadi passion saya, yaitu di bidang pengembangan diri dan manusia. Itu sebabnya semakin hari saya semakin banyak belajar tentang perilaku manusia dan bagaimana cara mengembangkan tiap potensi yang dimilikinya. Meskipun saya harus akui, disini saya juga menemui banyak kendala yang pada akhirnya membuka pola pikir saya tentang problematika yang ada di dalam dunia pengembangan diri itu sendiri yang pada dasarnya cukup sederhana, namun banyak orang yang tidak mau memahami bagaimana proses berjalannya. Itu sebabnya seringkali saya masih menemui banyak orang yang memiliki talenta, namun kurang dikembangkan bukan karena dia tidak bisa mengembangkannya, melainkan karena dia belum tau caranya dan belum mau. Saya akan ambil satu contoh tentang bagaimana manusia mampu mengembangkan dirinya, yaitu melalui bagaimana seorang manusia itu merespon lingkungannya. ada satu hal yang saya rasakan yang turut menentukan tingkat perkembangan ini yaitu penerimaan terhadap sebuah keadaan. Bagaimana respon seseorang itu menerima keadaan akan mempengaruhi perkembangan seseorang. Bagi saya hal ini cukup sederhana, yaitu karena ketika seseorang menerima dan mengikhlaskan sebuah keadaan meskipun itu tidak sesuai dengan harapan, maka dia tidak akan dengan mudah menyalahkan lingkungan. Ketika seseorang tidak mudah menyalahkan lingkungan dan hanya fokus pada perbaikan diri yang mampu dia lakukan, disitulah seseorang manusia akan merasakan sebuah perkembangan. 

Pertanyaannya adalah di tahun 2016 nanti, bisakah saya menjadikan pembelajaran yang telah lalu tersebut menjadi modal dalam menghadapi tantangan ke depan?

     Setiap orang bisa belajar dan memang wajib belajar, terutama dari pengalamannya. Namun menjadikan pengalamannya itu sebagai modal pembelajaran untuk menghadapi tantangan ke depannya tidak semudah sekedar menjalani proses pembelajaran. Mungkin beberapa diantara kita terkadang masih mempertanyakan tentang perlu atau tidaknya sebuah  momen pergantian tahun itu di rayakan. Bagi saya, momen pergantian tahun tetaplah perlu untuk di rayakan, yaitu dirayakan dengan cara menyediakan waktu sejenak untuk mengevaluasi pencapaian diri kita di tahun lalu sehingga di tahun depan kita mampu membuat rencana perbaikan yang ingin kita buat sehingga ke depannya ada lebih banyak perbaikan yang mampu kita buat dalam kehidupan kita. Jadi momen pergantian tahun bukan hanya tentang melepaskan tahun 2015, melainkan juga tentang mulai merancang langkah perbaikan yang dapat kita lakukan di tahun 2016. Karena sesungguhnya tantangan terbesar dalam kehidupan bagi saya bukanlah hanya tentang belajar dari kesalahan, melainkan juga tentang membuat dan merancang langkah perbaikan di masa depan. Jadi, mari kita menyambut tahun 2016 ini dengan membuat rancangan perbaikan aktifitas dari kesalahan atau pembelajaran yang kita dapatkan di tahun lalu dan bersiap menjalankan tahun 2016 ini dengan lebih optimis bahwa akan ada lebih banyak hal baik lagi di masa depan nanti 


Selamat Menyambut tahun 2016, dan semoga kebaikan dan kebermanfaatan hidup dapat senantiasa kita tebarkan di lingkungan sekitar kita semua

Terimakasih
Ivandhana

Read More

Motivasi dan Kepekaan Diri

Leave a Comment

     Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan menghabiskan liburan saya di Kota Malang, Jawa Timur. Momen liburan setelah setahun menjalankan rutinitas pekerjaan saya ternyata memang menjadi obat yang sangat baik untuk merefresh pemikiran sembari melakukan refleksi diri di penghujung tahun kali ini. memulai hari pertama liburan saya habiskan dengan beberapa kawan lama di Kota batu, yaitu sekitar 40-60 menit waktu tempuh dari kota malang. Kota batu memang memiliki panorama alam yang indah. Mulai dari pemandangan gunung, sawah, perkebunan apel dan buah-buahan lainnya sangat mudah ditemukan di kota ini. hal ini dikarenakan letaknya yang memang berada di dataran tinggi yang dekat dengan beberapa perbukitan yang hijau. Tempat tujuan awal saya adalah di wisata petik buah jambu Bumiaji kota Batu. disini kita bisa memetik buah jambu secara langsung yang ditanam secara alami dan tidak menggunakan bahan kimia sama sekali. di tengah keceriaan saya dan kawan-kawan saya dalam memetik buah jambu, seperti biasanya saya pun mengupdate status di media sosial agar kekinian seperti anak-anak masa kini. hehe
    Beberapa saat kemudian, ada sahabat yang kemudian memberikan komentar atas status saya. Komentarnya kira-kira seperti yang saya posting di gambar atas itu. melihat komentar rekan saya barusan, saya jadi mengingat kembali perkataan guru saya pada waktu dulu, yaitu kek jamillazzaini tentang kalimat motivasi. beliau sempat bercerita bahwa motivasi yang terbaik itu bukanlah sekedar kalimat motivasi dengan indahnya pemilihan kata, melainkan bisa juga berupa motivasi yang datangnya dari hal-hal kecil di lingkungan sekitar kita. Kadangkala kita melihat beberapa orang yang walaupun sudah mengikuti acara motivasi namun tetap saja tidak mampu termotivasi bukan? apakah orang tersebut lantas harus kita sebut tidak peka? tentu saja tidak karena motivasi itu bukanlah sekedar tentang terpukau dengan indahnya kata belaka, melainkan tentang kepekaan hati kita dalam memahami keadaan disekitar kita. orang yang tadi tidak merasa termotivasi, bisa saja karena pengalaman kehidupannya berbeda dengan yang dia dapatkan dalam acara motivasi tersebut. dan karena pengalaman atas sebuah kondisi tidak sama, maka dia jadi tidak sepakat dengan apa yang dia dengarkan walaupun yang dia dengarkan itu adalah kata-kata yang indah. 
    Motivasi atau inspirasi itu seringkali justru dimunculkan melalui kisah-kisah sederhana dari keseharian yang menimbulkan pembelajaran bagi diri kita di masa depan. Seperti yang saya lakukan pagi ini yaitu memetik buah jambu. sebenarnya kegiatannya cukup sederhana, namun dari proses memetik buah jambu tersebut seakan mengingatkan diri saya sendiri tentang bagaimana kita memetik kesuksesan didalam kehidupan. sama-sama membutuhkan pemikiran jeli untuk memilih buah jambu dengan tepat yang kalo diibaratkan dengan manusia yaitu membutuhkan pemikiran jeli untuk memahami potensi yang kita miliki. selanjutnya kita perlu memetik buah tersebut dengan usaha yang tepat seperti memanjat dan yang lainnya yang kalo diibaratkan dengan manusia adalah kita memerlukan usaha yang tepat untuk mampu mendapatkan kesuksesan yang kita harapkan.
     Saya selalu yakin bahwa motivator terbaik bagi seorang manusia adalah diri manusia itu sendiri. motivator yang ada di lingkungan sekitar maupun televisi hanyalah media untuk membantu diri kita dalam membangkitkan motivasi, namun bukanlah penentu kemunculan motivasi itu sendiri. yang mampu memunculkan motivasi pada dasarnya adalah diri kita sendiri yang dibantu dengan sedikit kepekaan hati dalam memandang hal-hal sederhana dalam kehidupan ini. sama seperti yang saya lakukan pada kesempatan kali ini, saya hanya sekedar berbagi sudut pandang yang saya alami yang harapannya dapat membantu rekan-rekan pembaca menciptakan ruang untuk motivasinya sendiri dalam kehidupannya sehari-hari. 

Mungkin itu yang dapat saya bagikan pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat dan mohon maaf bila ada salah kata dalam tulisan saya kali ini. 
ingin mendapatkan update terbaru dari saya? Silahkan di cek di instagram/path/facebook: Ivandhana
terimakasih....
Read More

Sukses = Persiapan + Kesempatan

Leave a Comment
"Kesuksesan adalah pertemuan antara persiapan dengan kesempatan"



     Tepat seminggu yang lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti TFT FSH (Training For Trainer Fokus Satu Hebat). Training ini diselenggarakan oleh Soft skill Institute dan dibawakan langsung oleh Kang Masduki Asbari selaku Direktur Soft Skill Institute sekaligus penulis Buku Fokus Satu Hebat. Training ini pada dasarnya bertujuan untuk menyebarluaskan konsep “Fokus Satu Hebat” kepada seluruh masyarakat di penjuru indonesia melalui trainer-trainernya. Konsep “Fokus Satu Hebat” itu sendiri adalah sebuah konsep yang mengarahkan diri kita untuk mengetahui dan fokus pada apa yang jadi keunggulan kita untuk kemudian dikembangkan secara terus menerus sehingga kita bisa jadi seseorang yang hebat di bidang kita masing-masing. Untuk penjelasan lebih detail tentang konsep Fokus Satu Hebat sendiri tidak akan saya jelaskan pada tulisan saya kali ini, melainkan akan saya jelaskan nanti pada training “Fokus Satu Hebat” jika memang pembaca sekalian berkesempatan untuk mengundang saya untuk berbagi.  :) 

      Saya harus akui bahwa training yang saya ikuti minggu lalu termasuk pelatihan yang membekas dalam hati saya. Selain karena materi dan trainer di dalamnya, para pesertanya pun menjadi bagian dari momen menarik dan "membekas" yang kemarin saya alami.  Pelatihan kemarin membuat saya mengingat kembali ungkapan dari ayah saya tentang sebuah kesuksesan semasa saya masih kecil. “jika kamu ingin jadi dokter, bergaullah dengan dokter. Jika kamu ingin jadi pengacara maka perbanyaklah bergaul dengan pengacara.” Dahulu saya masih berusia sangat dini untuk memahami ungkapan yang ayah saya katakan kepada diri saya tersebut. Namun dengan berjalannya waktu saya perlahan memahami apa maksud dari ungkapan tersebut diatas. Dan dalam pelatihan “Fokus Satu Hebat” yang saya ikuti kemarin, saya semakin memahami perkataan ayah saya dulu. Ungkapan ayah saya itu sebenarnya bukanlah bermaksud membatasi pergaulan kita. Karena jika kita tafsirkan dengan sudut pandang yang sempit, bisa saja ungkapan tersebut bermakna demikian. namun ungkapan tersebut diatas sebenarnya mengajak diri kita untuk memilih  kawan atau sahabat yang mampu mengembangkan diri kita kearah yang lebih baik. Kita memang diwajibkan untuk berteman dengan siapa saja, namun untuk mengembangkan diri kita jadi lebih baik, dibutuhkan lebih dari sekedar teman biasa, yaitu dibutuhkan seorang kawan atau sahabat yang tidak berhenti menyemangati dan memotivasi serta menjadi mentor yang setia mengingatkan diri kita agar kita mampu terus melangkah menuju apa yang jadi impian atau tujuan kita di masa depan.

       Setelah kita memiliki lingkungan yang kita anggap mampu mengembangkan diri kita, apakah itu cukup untuk membuat kita jadi pribadi yang makin baik dan sukses? Tentu saja belum cukup. Untuk dapat jadi seseorang yang sukses, sebelumnya kita perlu tau potensi atau bakat yang kita miliki. Mengapa tau potensi diri ini penting? Karena dengan mengetahui potensi yang kita miliki, kita jadi tau pilhan cara untuk mengembangkan potensi kita tersebut dan kita jadi mampu menentukan jalan kesuksesan yang akan kita tempuh dalam kehidupan kita. Salah satu contohnya adalah yang saya alami sendiri : Menurut Konsep Stifin (Mesin Kecerdasan), saya termasuk orang dengan mesin kecerdasan Feeling. Orang-orang yang memiliki mesin kecerdasan Feeling, memiliki potensi untuk menjadi pendengar yang baik sekaligus suka untuk berbicara  sehingga orang-orang dengan mesin kecerdasan ini cocok untuk jadi seorang trainer, guru atau motivator. Dahulu, jauh sebelum saya mengenal konsep stifin, saya memang sudah jatuh hati dengan dunia training dan saya sangat suka untuk mengembangkan orang lain. Nah setelah saya mengetahui potensi saya ini tadi, maka saya jadi tau bagaimana cara memaksimalkan potensi yang saya miliki tersebut seperti aktifitas yang saat ini sedang saya geluti, yaitu menjadi trainer sembari terus belajar dengan mengikuti training-training yang mendukung diri saya sebagai seorang trainer. Artinya, penting bagi kita untuk mengetahui potensi yang kita miliki sebelum kita melakukan sesuatu untuk mengembangkan diri kita. Kalau teman-teman saya sering mengatakan pentingnya tau potensi diri yaitu untuk mengurangi “stupid Cost” atau biaya kebodohan. Sebuah biaya yang kita keluarkan itu sia-sia karena biaya tersebut kita keluarkan untuk mengembangkan kita namun tidak sesuai dengan apa yang menjadi potensi kita. Sehingga hasilnya tidak maksimal atau justru tidak menghasilkan apa-apa.

       Setelah kita mengetahui potensi diri kita, maka yang selanjutnya harus dilakukan adalah belajar sembari terus berlatih. Mengikuti pelatihan-pelatihan yang mendukung minat saya sebagai trainer adalah salah satu cara saya untuk terus belajar. Diatas langit masih ada langit, itu sebabnya kita tidak boleh cepat merasa puas dan berhenti belajar. Akan selalu ada hal-hal baru disekitar kita yang menuntut diri kita untuk terus belajar dan mengupgrade diri. Begitu pula dengan pembaca sekalian, jika sudah menemukan potensi dan keunggulan diri maka teruslah belajar untuk mengembangkan keunggulan tersebut sembari terus berlatih. Saya sedikit mengutip kalimat dari buku Malcolm Gladwell tentang salah satu syarat untuk jadi orang yang sukses, yaitu berlatih atau praktek minimal 10.000 jam. Artinya selain kita belajar dari banyak sumber, salah satu poin terpenting untuk mengembangkan diri kita adalah dengan mempraktekkan langsung apa yang sudah kita pelajari. 

Jadi, sudah siapkah kita mempertemukan antara persiapan yang kita lakukan dengan kesempatan yang ada sehingga mampu mewujudkan sebuah kesuksesan? jika belum, yuk kita mulai mempersiapkan diri dari sekarang. dengan cara menemukan lingkungan yang mampu mengembangkan diri kita, mengetahui potensi diri kita dan tidak berhenti belajar dan berlatih untuk memaksimalkan potensi yang kita miliki

Sekian apa yang bisa saya bagi pada minggu ini. Semoga bermanfaat :)

Sebagai penutup, dibawah ini saya juga berbagi momen training seminggu lalu

 Foto Bersama para Trainer Fokus satu Hebat


Foto Bersama Kang Masduki Asbari (Direktur Softskill Institute 
Sekaligus Penulis Buku Fokus Satu Hebat)

Read More
Previous PostPosting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.